KHOTBAH JANGKEP

Khotbah Jangkep Minggu, 6 Februari 2011

Minggu Biasa Ke Lima (Hijau)

KESALEHAN SEJATI:

JALAN BERBAGI HIDUP UNTUK SESAMA

Bacaan I: Yesaya 58:1-12; Tanggapan: Mazmur 112:1-10

Bacaan II: I Korintus 2:1-16; Bacaan III: Injil Matius 5:13-20

Tujuan:

Jemaat menyadari akan panggilan mengupayakan kesalehan hidup dan kesalehan tersebut nampak di dalam sikap, perilaku serta tindakan yang benar dalam bingkai hidup bersama orang lain.

 Dasar Pemikiran

Misi gereja adalah mewartakan kasih Tuhan kepada sesama. Kasih yang telah diterima manusia dengan karya penebusan Yesus Kristus perlu ditanggapi dengan mengupayakan kesalehan hidup. Namun kesalehan tersebut bukan menjadi jurang pemisah relasi antar manusia. Dengan kata lain kesalehan hidup justru menjadi jembatan relasi antar manusia demi memayu hayuning bawana.

 Keterangan Tiap Bacaan

Yesaya 58:1-12 (Puasa yang berdimensi Sosial)

Perikop Yesaya tersebut menggambarkan hal kesalehan yang tidak sejalan dengan sikap atau tindakan umat Tuhan. Mereka melakukan ibadah, ritual dan tradisi iman namun dalam kenyataan sosial umat Tuhan justru berlaku jahat (ayat 1-5). Maka Tuhan mengingatkan melalui Yesaya agar mereka bertobat dengan jalan memperbaiki paradigma mereka bahwa kesalehan harus sejalan dengan perilaku yang membawa damai sejahtera bagi sesama (ayat 6-7, 9-10). Buah bagi umat yang mau menyelaraskan kesalehan dengan tindakan hidup yang benar adalah damai sejahtera (ayat 11-12).

Mazmur 112:1-10 (Berbahagia orang yang takut akan Tuhan)

Kebahagiaan dalam batin adalah ketika umat takut kepada Tuhan dan menyukai perintah-Nya (ayat 1). Kebahagiaan tersebut berbuahkan karunia baik bagi hidup pribadinya (ayat 2-4, 6-8) dan juga berbuahkan karunia bagi sesamanya (ayat 5, 9).

I Korintus 2:1-16 (Bergantunglah kepada Roh Allah)

Paulus menyatakan bahwa misi pelayanannya adalah memberitakan Injil yang berarti damai sejahtera bagi umat. Bukan seperti penguasa-penguasa arogan yang akhirnya menyalibkan Yesus Kristus karena mereka tidak mengenal misi karya-Nya demi manusia (ayat 1-8). Pada bagian berikutnya, Roh Allah pada dasarnya memayungi hidup umat-Nya. Roh Allah tersebut mendatangkan hikmat dan hikmat pada akhirnya mendatangkan pikiran Kristus (ayat 9-16).

Injil Matius 5:13-20 (Bapa Yasng dimuliakan)

Perikop Injil tersebut dapat dibagi menjadi dua pikiran yaitu 1. Panggilan Tuhan agar umat-Nya berfungsi di dalam dunia ini bagaikan garam dan terang (ayat 13-16). 2. Keyakinan atau iman yang terbingkai oleh hukum Tuhan maupun aturan agama terwujud di dalam perilaku hidup yang benar (ayat 17-20).

Harmonisasi Bacaan

Panggilan hidup menjadi saleh dinyatakan Allah sejak jaman Yesaya walaupun umat bertindak jahat di hadapan-Nya. Namun demikian mereka dipanggil untuk bertobat serta mengupayakan kesalehan yang mendatangkan damai sejahtera. Panggilan hidup saleh seharusnya menjadi hal yang membahagiaan umat seperti yang disampaikan pemazmur. Bahkan Paulus pun mengajak jemaat untuk mengupayakan Roh Allah, karena Roh tersebut yang mendatangkan hikmat yang pada akhirnya memampukan umat berpikiran seperti Kristus. Barang siapa yang saleh dan hidupnya mendatangkan damai sejahtera bagi orang lain, berarti dia telah memfungsikan diri menjadi garam dan terang dunia seperti yang dikehendaki Yesus dan nampak nyata dalam perilaku kehidupannya.

Pokok dan Arah Pewartaan

Kesalehan hidup membawa umat menuju hikmat Allah yang membahagiakan dan dalam naungan Roh-Nya umat dimampukan untuk berfungsi menjadi garam serta terang dunia.

Khotbah Jangkep

Saudara-saudara yang terkasih di dalam Tuhan Yesus,

Keberadaan kita sebagai manusia tidak dapat dilepaskan dari keberadaan orang lain. Kita tidak akan mungkin hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Coba kita ingat kembali peristiwa bencana alam yang melanda negeri kita penghujung tahun 2010 baik di Wasior, Mentawai maupun Merapi. Perhatian berbagai pihak tertuju kepada saudara-saudara kita yang tertimpa bencana alam dan di dalamnya kita juga terlibat membantu memperhatikan serta menolong mereka. Dalam peristiwan meletusnya Merapi, beberapa GKJ berkenan mendirikan posko yang melayani kebutuhan hidup para korban bencana alam baik secara jasmani maupun rohani dengan trauma healing yang mereka layankan. Inilah sifat dasar manusia yang tidak dapat dipisahkan dari sesamanya.

Minggu Epifani V ini kita diingatkan akan panggilan sebagai umat Tuhan, di mana sebagai umat-Nya salah satu unsur yang harus nampak dalam kehidupan iman kita adalah kesalehan. Kesalehan menjadi tanda akan iman dan keyakinan kepada Tuhan. Kesalehan juga menjadi tanda kepasrahan diri di bawah kuasa Tuhan, sehingga sebagai umat keberadaannya adalah benar-benar mengabdi kepada Tuhan. Memang, yang dapat mengukur kualitas seberapa saleh kita adalah diri kita sendiri. Orang lain hanya bisa memandang tanpa dapat menilai secara benar dan akurat kesalehan kita. Yang jelas kesalehan itu bukan hanya berkaitan dengan hubungan umat dengan Tuhan, tetapi kesalehan juga harus nyata di dalam hubungan umat secara pribadi dengan sesamanya. Kesalehan dalam ranah iman berdampak di dalam realita sosial manusia.

Saudara-saudara yang terkasih di dalam Tuhan Yesus,

Walaupun manusia diciptakan sebagai mahluk sosial, namun manusia belum mampu untuk hidup benar serta sempurna di hadapan-Nya. Yesaya 58:1-12 menggambarkan keberadaan umat Tuhan yang sesungguhnya di mana mereka melakukan ritual-ritual, upacara-upacara, ketetapan agama dengan sungguh-sungguh walaupun semuanya itu dilakukan dengan semu. Umat Tuhan lebih senang menjadi manusia yang berani melawan Dia sehingga Tuhan seakan-akan muak melihat kepura-puraan umat-Nya (ayat 3-7). Bukan kepura-puraan yang dikehendaki Tuhan, namun hidup benar (ayat 9-10) karena dengan hidup benar itu seluruh umat-Nya akan mendapatkan berkat khusus dari Tuhan (ayat 11-12). Yesaya menegaskan pertobatan perlu diupayakan dengan sungguh-sungguh oleh umat-Nya, karena dengan pertobatan Tuhan menyatakan damai sejahtera bagi umat-Nya. Maka ajakan Yesaya tersebut menjadi hal yang cukup penting untuk diperhatikan, sehingga sebagai umat-Nya jangan terjatuh pada keegoisan di mana keegoisan menjadikan manusia berpura-pura di dalam kehidupan serta kepura-puraan itu berbuahkan sikap hidup jahat yang pada akhirnya merugikan orang lain.

Kesalehan adalah sebuah panggilan yang mendatangkan kebahagiaan. Bagi pemazmur, kebahagiaan yang sesungguhnya bukanlah harta benda yang berlimpah. Namun kebahagiaan yang sejati adalah ketika sebagai umat mempunyai kesadaran takut kepada Tuhan dan menyukai perintah-Nya (Mazmur 112:1). Ketika umat mengejar kebahagiaan sejati yaitu dengan takut akan Tuhan dan menyukai perintah-Nya maka buah yang dipetik adalah karunia baik yang akan dirasakan secara pribadi (ayat 2-4, 6-8) dan juga dirasakan bagi sesamanya (ayat 5, 9). Pengajaran melalui mazmur saat ini nampak jelas di mana kesalehan pribadi yang nampak di dalam sikap takut akan Tuhan serta menyukai perintah-Nya pada akhirnya berbuahkan damai sejahtera yang dirasakan juga oleh sesama manusia.

Betapa pentingnya kesalehan bagi umat Tuhan ditegaskan Paulus dalam pengajarannya melalui I Korintus 2:1-16. Paulus menyatakan bahwa misi pelayanannya adalah memberitakan Injil yang berarti damai sejahtera. Ia memilih jalan hidup sebagai penginjil yang berseberangan dengan jalan hidup para penguasa yang cederung arogan. Bahkan arogansi tersebut menyebabkan hilangnya rasa kemanusiaan dan Yesus pun menjadi korban arogansi para penguasa. Paulus lebih memilih jalan hidup sebagai pewarta Injil yang justru kehadirannya memancarkan kedamaian. Apa yang menyebabkan Paulus seperti itu? Karena dia mengimani Roh Allah yang menudungi hidup manusia akan mendatangkan hikmat dan hikmat tersebut menumbuhkan pikiran seperti Kristus (ayat 9-16).

Manusia yang berpikiran seperti Kristus tentunya hidupnya hampir sama dengan teladan yang diberikan oleh Yesus Kristus sendiri. Kesalehan yang dijalani Yesus nampak dalam kehidupan umat-Nya dan akhirnya umat berfungsi dalam karya penyelamatan Allah. Fungsi umat tersebut nampak dalam panggilan Yesus dalam Matius 5:13-20, di mana umat-Nya terpanggil untuk menjadi garam dan terang dunia (ayat 13-16) dan imannya diejawantahkan di dalam perilaku hidup yang benar (ayat 17-20). Garam adalah pelengkap suatu masakan agar enak untuk dinikmati. Tanpa garam, masakan akan terasa anyep (tidak sedap). Garam bentuknya tidak istimewa, sederhana bahkan murah harganya. Namun, garam tersebut menjadi gambaran istimewa iman kita di mana orang percaya terpanggil agar hidupnya berfungsi, berguna dan mampu membawa perubahan penuh dengan damai sejahtera. Selain itu gambaran terang pun menjadi sebuah panggilan bagi umat Tuhan. Terang adalah sumber cahaya yang tidak hanya dinikmati bagi dirinya sendiri (contohnya lilin yang hidup tidak untuk dirinya sendiri). Terang adalah sumber cahaya yang berbuahkan keteraturan di dalam kehidupan (contohnya dengan sinar matahari kehidupan di dunia ini menjadi teratur, bayangkan jika matahari tidak bersinar). Maka, betapa pentingnya terang bagi kehidupan manusia.

Saudara-saudara yang terkasih di dalam Tuhan Yesus,

Panggilan untuk hidup saleh menjadi sebuah panggilan yang perlu diperjuangkan umat Tuhan. Namun pertanyaannya: Apakah sebagai umat-Nya kita sudah membangun kesalehan yang benar? Menjadi sebuah persoalan menarik untuk kita renungkan kaitannya dengan kesalehan kita di mana kesalehan itu menjadi penanda kedekatan hubungan kita dengan Tuhan. Benarkah Tuhan menjadi satu-satunya sumber kehidupan kita yang senantiasa kita andalkan? Bukankah seringkali kita masih mengandalkan harta benda, kekuatan manusia, kepandaian, teknologi, kedudukan dan sebagainya di mana semuanya itu kemudian menjadi ‘tuhan’ bagi kita? Lalu, di manakah letak kesalehan kita? Seorang yang saleh adalah setia dengan janji Tuhan, tetapi apakah kita setia dengan janji-janji-Nya? Bukankah kita sering kecewa, marah bahkan menggugat Tuhan ketika apa yang menjadi keinginan kita tidak segera dikabulkan-Nya? Apakah demikian keberadaan hidup seorang yang saleh?

Pertanyaan reflektif berikutnya: Apakah kesalehan tersebut telah nampak dalam perilaku keseharian kita? Sebagai umat yang saleh, jalan hidup yang dilaluinya adalah jalan yang benar. Tetapi apakah jalan hidup yang kita lalui selalu benar? Ketika kita mengaku sebagai milik Kristus namun perilaku kita tidak berbeda dengan dunia: berbohong, mencuri, korupsi, menipu, memfitnah, melecehkan orang lain, mengeksploitasi sesama, selingkuh dan sebagainya. Apakah perilaku tersebut pantas dilakukan oleh umat Tuhan? Bukankah sebagai umat Tuhan kita dipanggil untuk menghibur yang bersusah hati, memberi penguatan pengharapan bagi mereka yang kehilangan semangat hidup, berbagi dengan mereka yang berkekurangan, menghormati hak hidup orang lain, membela yang tertindas dan sebagainya.

Menjelang ulang tahun GKJ ke 80 yang akan kita peringati tepat 17 Pebruari mendatang, mari kita renungkan kembali keberadaan kita sebagai umat dan bagian dari gereja Tuhan. Merenungkan kembali kesalehan hidup sebagai salah satu perwujudan iman kita kepada Tuhan serta merenungkan kembali perilaku kita sebagai pribadi maupun gereja untuk mendatangkan damai sejahtera. Kiranya Tuhan memampukan kita mengupayakan kesalehan sejati yang nyata di dalam tindakan untuk mau berbagi hidup dengan sesama kita. Tuhan memberkati. Amin.

 Rancangan Bacaan Alkitab:

Berita Anugerah : Mazmur 37:18-19

Petunjuk Hidup Baru : II Petrus 1:3

Nas Persembahan : Roma 12:1

 Rancangan Nyanyian Pujian:

Nyanyian Pembukaan : KJ no. 407:1,2

Nyanyian Penyesalan : KJ no. 441:1,2

Nyanyian Kesanggupan : KJ no. 432:1,2

Nyanyian Persembahan : KJ no. 417:1-

Nyanyian Penutup : KJ no. 422:1-3

Khotbah Jangkep Minggu, 6 Februari 2011

Minggu Biasa Kaping Gangsal (Ijo)

KAMURSIDAN SEJATI

MARGI DUNDUM GESANG TUMRAP SESAMI

Waosan I: Yesaya 58:1-12; Tanggapan: Jabur Masmur 112:1-10

Waosan II: I Korinta 2:1-16; Waosan III: Injil Mateus 5:13-20

Tujuan:

Pasamuwan nglenggana bab timbalan ngupadi kamursidaning gesang lan kamursidan kasebat kababar ing salebeting sikep, solah bawa lan tumindak ingkang leres tumrap gesang sesarengan kaliyan sesami

 Khotbah Jangkep

Para sedherek ingkang kinasih wonten ing patunggilanipun Gusti,

Jejering manungsa titahipun Gusti boten saged dipun pisahaken saking kawontenanipun tiyang sanes. Kita boten badhe saged gesang piyambak tanpa wonten pambiyantunipun tiyang sanes. Cobi kita enget malih kedadosan bencana alam ingkang nempuh nagari punika ing pungkasaning taun 2010 dadosa ing Wasior, Mentawai punapa dene redi Merapi. Kawigatosanipun kathah tiyang tumuju dhateng sedherek-sedherek kita ingkang nemahi bencana alam kasebat lan ing bab pambiyantu mesthinipun kita ugi suka pambiyantu dhumateng sedherek-sedherek kita. Kedadosan njeblugipun redi Merapi, sawatawis pasamuwan GKJ ngedegaken posko ingkang ngladosi kabetahan gesangipun para korban bencana alam dadosa sacara kajasmanen mekaten ugi sacara karohanen kanthi damel posko trauma healing utawi posko ingkang mbereg ngudi dayaning gesang sampun ngantos semplah nglokro punapa dene pepes pangajeng-ajengipun. Punika sipat dhasaring manungsa ingkang boten saged kapisah saking sesaminipun.

Ing Minggu Epifani kaping V punika kita dipun engetaken lan dipun timbali minangka umat kagunganipun Gusti, supados mbudidaya ing bab kamursidan. Mursid punika saged dados titikan anggenipun pitados lan yakin dhumateng Gusti. Mursid punika ugi dados tandha pasrahing jiwa raga wonten ing sangandhaping panguwaosipun Gusti, temah minangka umat kawontenanipun ngabdi dhateng Gusti kanthi tumemen. Pancen, ingkang saged njajagi sepinten lebeting kamursidan kita inggih namung dhiri kita pribadi. Tiyang sanes namung saged ningali tanpa saged njajagi kanthi leres lan pener bab kamursidan kita. Ingkang baku kamursidan punika boten namung magepokan sesambetanipun umat lan Gusti, nanging kamursidan ugi kababar wonten ing salebeting sesambetanipun umat sacara pribadi kaliyan sesaminipun. Kamursidan ingkang papanipun wonten ing wewengkon kayakinan, nanging mangaribawani ing salebeting gesang sosialipun manungsa.

Para sedherek ingkang kinasih ing patunggilanipun Gusti,

Sinaosa manungsa katitahaken minangka makluk sosial, nanging manungsa dereng saged mbabar gesang ingkang leres punapa malih sampurna ing ngarsanipun Gusti. Yesaya 58:1-12 nggambaraken kawontenaning umatipun Gusti ing pundi umatipun Gusti nindakaken padatan, upacara, pranatan agami kanthi temen-temen sinaosa sadayanipun jebul namung lelamisan. Umatipun Gusti langkung remen dados manungsa ingkang wantun nglawan Gusti tundhonipun Gusti kados-kados sampun boten karsa malih mirsani umatipun Gusti ingkang lelamisan (ayat 3-7). Sanes lelamisan ingkang dipun karsakaken dening Gusti, nanging gesang ingkang leres (ayat 9-10) awit kanthi gesang ingkang leres kasebat sadaya umatipun Gusti badhe nampeni berkah mirunggan saking Gusti (ayat 11-12). Yesaya nandhesaken prakawis mratobat ingkang prelu dipun budidaya kanthi temen-temen dening umatipun, awit kanthi pamratobatipun umat Gusti mbabar tentrem rahayu tumrap piyambakipun. Mila Yesaya ngatag supados punapa ingkang dipun pratelakaken estu dipun gatosaken, temah minangka umatipun Gusti sampun ngantos kablithuk ngutamekaken dhirinipun piyambak lan sikep kasebat ngewohaken kadurakan kadursilan ingkang tundhonipun adamel tunanipun tiyang sanes.

Kamursidan punika satunggaling timbalan ingkang ndhatengaken kabingahan. Tumrap juru masmur, kabingahan ingkang sejati sanes bandha donya. Nanging kabingahan sejati punika nalika umat nggadhahi sikep ajrih asih dhumateng Gusti lan remen dhateng pepakenipun (Jabur 112:1). Nalika umat nggayuh kabingahan sejati inggih punika kanthi ajrih asih dhumateng Gusti lan remen dhateng pranatanipun, mila wohing sikep ingkang mekaten punika inggih punika sih rahmat ingkang dipun raosaken sacara pribadi (ayat 2-4, 6-8) lan ugi saged dipun raosaken dening sesaminipun (ayat 5, 9). Piwucal lumantar Jabur Masmur punika cetha sanget ing pundi kamursidan pribadi ingkang kababar ing salebeting sikep ajrih asih dhumateng Gusti saha remen dhateng sadaya pranatan tundhanipun ngewohaken tentrem rahayu ingkang saged dipun raosaken dening sadaya manungsa.

Mekaten wigatining kamursidan ingkang prelu dipun upadi dening umatipun Gusti, dipun tandhesaken dening Paulus wonten ing piwucalipun lumantar I Korinta 2:1-16. Paulus mratelakeken bilih enering paladosanipun inggih punika mbabar Injil ingkang ateges mbabar tentrem rahayu. Piyambakipun milih margining gesang dados juru wartaning Injil ingkang lelawanan kaliyan cara gesangipun para panguwaos ingkang condhong kumawasa. Paulus milih margining gesang dados pawarta Injil ingkang malah mbabar utawi nyunaraken katentreman. Punapa ingkang njalari Paulus kados mekaten punika? Awit piyambakipun mitadosi Rohing Allah ingkang ngaubi gesanging manungsa badhe ndhatengaken kawicaksanan nuwuhaken raos pangraos kados dene Sang Kristus (ayat 9-16).

Manungsa ingkang ndarbeni pangraos kados dene Sang Kristus mesthinipun gesangipun nulad Yesus Kristus piyambak. Kamursidan ingkang dipun lampahi dening Gusti Yesus ketingal ing gesang umatipun lan tundhanipun umat migunani ing salebeting pakaryanipun Gusti milujengaken jagad. Tugasipun umat kados ingkang dipun wucalaken Gusti Yesus wonten ing Mateus 5:13-20, ing pundi umat tinimbalan dados sarem lan pepadhanging jagad (ayat 13-16). Sarem punika njangkepi satunggaling tetedhan supados eca raosipun nalika dipun tedha. Tanpa sarem, satunggaling tedhan karaos anyep (boten eca, boten wonten raosipun). Sarem punika wujudipun boten sae, prasaja sanget malah kepara mirah reginipun. Nanging sarem kasebat dados gambaran mirunggan magepokan kaliyan kapitadosan kita ing pundi tiyang pitados tinimbalan supados gesangipun punika munpangati, migunani lan saged mbabar ewah-ewahan ngener dhateng tentrem rahayu. Kajawi punika, gambaran pepadhang punika ugi dados timbalan tumrap umatipun Gusti. Pepadhang punika salah satunggaling cahya ingkang boten namung munpangati tumrap dhirinipun piyambak (contonipun lilin ingkang gesang boten kangge badanipun piyambak). Cahya punika sumbering pepadhang ingkang ngewohaken lampahing gesang tinata runtut (contonipun srengenge ingkang sumunar njalari lampahing gesang ing jagad punika tinata runtut, cobi dipun bayangaken menawi srengenge boten sumunar!). Mila, pepadhang punika wigati sanget tumrap gesangipun manungsa.

Para sedherek ingkang kinasih ing patunggilanipun Gusti Yesus,

Timbalan gesang mursid dados satunggaling timbalan ingkang prelu dipun budidaya dening umatipun Gusti. Nanging pitakenanipun: Punapa minangka umatipun Gusti kita sampun mbangun kamursidan ingkang leres? Kamursidan punika dados tandha sepinten celakipun sesambetan kita kaliyan Gusti. Nanging, punapa Gusti sampun dados satunggaling sumber gesang kita ingkang tansah kita endel-endelaken. Kamangka asring kalampahan kita punika ngendel-endelaken bandha donya, kakiyataning manungsa, kawasisan, teknologi, kalenggahan lan sanes-sanesipun ing pundi sadayanipun punika lajeng dados ‘gusti’ tumrap dhiri kita. Lajeng ing pundi papaning kamursidan kita? Satunggaling tiyang ingkang mursid punika mesthi setya dhateng prajanjinipun Gusti, nanging prakawisipun punapa kita temen-temen setya dhateng prajanjinipun Gusti? Asring kalampahan kita malah damel gela, nepsu malah nggugat Gusti nalika punapa ingkang dados panyuwunipun dereng dipun sembadani. Punapa makaten punika gesangipun tiyang ingkang mursid?

Pitakenan salajengipun: Punapa kamursidan kasebat sampun kababar wonten ing tumindak padintenan kita? Minangka umatipun Gusti ingkang mursid, margining gesang ingkang dipun langkungi punika margi ingkang leres. Nanging, punapa margining gesang kita tansah ngambar margi kaleresan? Nalika kita ngakeni bilih kita punika kagunganipun Sang Kristus namung kemawon tumindak kita asring nyulayani karsanipun Gusti lan boten beda kaliyan jagad ingkang peteng, kadosta: remen ngapusi, remen colong jupuk, nylingkuhaken arta, boten setya dhateng semahipun (selingkuh) lan sapiturutipun. Punapa tumindak ingkang mekaten punika pantes dipun tindakaken dening umatipun Gusti? Kamangka minangka umatipun Gusti kita tinimbalan paring panglipuran tumrap sesami ingkang kasisahan, paring panjurung pambereg tumrap ingkang kecalan pangajeng-ajeng, mbagi dhateng ingkang mbetahaken, ngaosi hak gesangipun tiyang sanes, mbelani tiyang ingkang katindhes lan sapiturutipun.

Ndungkap tanggap warsa GKJ ingkang kaping 80, sumangga kita raos-raosaken malih kawontenan kita minangka umat lan perangan pasamuwanipun Gusti. Kita raos-raosaken malih punapa kamursidan kita dados salah satunggaling wujud kapitadosan kita dhumateng Gusti lan ngraos-raosaken tumindak kita minangka pribadi punapa dene peranganing pasamuwan kangge ndhatengaken tentrem rahayu. Mugi Gusti ndayani kita ngupadi kamursidan sejati ingkang kababar ing salebeting tumindak supados purun mbagi gesang kaliyan sesami kita. Gusti mberkahi. Amin.

 Rancangan Waosan Kitab Suci:

Pawartos Sih Rahmat : Jabur 37:18-19

Pitedah Gesang Enggal : II Petrus 1:3

Nas Pisungsung : Rum 12:1

 Rancangan Kidung Pamuji:

Kidung Pambuka : KPK BMGJ 31:1, 2

Kidung Panalangsa : KPK BMGJ 43:1, 2

Kidung Kasanggeman : KPK BMGJ 176:1, 2

Kidung Pisungsung : KPK BMGJ 187:1-

Kidung Panutup : KPK BMGJ 137:1, 2

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s